Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Al-Qur’an, sebagai kitab suci. Adalah panutan dan pedoman bagi seluruh umat manusia. Yang mana, Al-Qur’an ini diturunkan sebagai arahan bagi mereka yang ingin hidup sebagai manusia Robbany.
Di dalam Kitab Suci ini, kita bisa mengambil banyak sekali pelajaran jika mempelajarinya. Dan mendapatkan banyak pahala dikala membaca dan menghafalkannya. Ada banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil di dalamnya. Termasuk, ilmu ilmu dunia. Dan pastinya, pengetahuan tentang Akhirat bagi kita yang ingin mempersiapkan diri. Mempersiapkan diri menghadap Allah, Tuhan seluruh Alam.

Mereka yang Menjauhinya

Walaupun sudah jelas mereka beragama Islam. Dan mereka tau bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup bagi mereka. Tidak sedikit dari umat Islam itu sendiri yang meninggalkannya, malas membaca
Bahkan, di antara kita, banyak yang hanya menjadikannya sebatas pajangan lemari. Dan hanya dibuka setahun sekali. Ada juga dari kita yg bahkan tidak pernah membukanya sama sekali.
Padahal pelajaran yang sangat berharga ada di dalamnya. Pahala yang besar terus mengalir seiring di bacanya. Ataukah mungkin kita merasa bekal kita sudah cukup sehingga meninggalkannya. Ataukah, mungkin kita sudah lupa bagaimana perjuangan Rasulullah beserta Sahabatnya dalam menjaga keutuhannya.
Kerugian dan penyesalan, itulah ganjaran bagi mereka yang meninggalkan AlQur’an di dunia. Dan Neraka di Akhirat. Bagaimana tidak? Kitab Suci yang seharusnya jadi panduan untuk mereka, malah mereka tinggalkan. Yang seharusnya mereka baca, malah hanya jadi pajangan. Maka, celakalah mereka yang meninggalkannya.

Al Quran Sebagai Obat dari Segala Penyakit Hati dan Jasmani

Berbicara mengenai al-Quran sebagai syifâ’ (obat atau penawar) terhadap penyakit, hingga saat ini masih menjadi perbicangan yang menarik. Apalagi, ketika wacana itu dilanjutkan dengan fungsinya (al-Quran) sebagai rahmat (karunia) Allah. Benarkah al-Quran itu memiliki kegunaan yang seperti itu, dan apakah nilai kegunaannya bersifat mutlak atau relatif? Inilah yang kemudian memicu para tafsir al-Quran untuk menjelaskannya dengan berbagai ragam pendekatan dan metodenya. Tetapi, ketika kita cermati, semuanya bermuara pada satu pendapat, bahwa efektivitas kegunaan al-Quran sebagai syifâ’ danrahmah sangat bergantung pada manusia yang mengharapkannya. Apakah yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan utama untuk memerolehnya? Semakin terpenuhi persyaratan utamanya, maka semakin mungkin seseorang akan memeroleh syifâ’ dan rahmah dari Allah, begitu juga sebaliknya. Yang perlu di garis bawai jawabanya tegas adalah “ IMAN “ Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Isrâ’/17: 82

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS al-Isrâ’/17: 82)

Tafsîr al-Mufradât

نُنَزِّلُ:“Kami turunkan.” Maksudnya Kami (Allah) wahyukan ayat-ayat Kami melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. bagi seluruh hamba Kami, yang semuanya telah terkodifikasi di dalam kitab suci al-Quran.مِنَ الْقُرْآنِ:“Dari al-Quran.” Kata min dalam ayat ini, menurut pendapat yang râjih (kuat) menjelaskan (bayâniyyah) jenis dan spesifikasi yang dimiliki al-Quran. Kata min di sini tidak bermakna  sebagian (ba’dhiyyah) yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat al-Quran ada yang tidak termasuk syifâ` (obat atau penawar) sebagaimana yang dirâjihkan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah.

Kata min pada ayat ini seperti hal yang terdapat dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS an-Nûr/24: 55)

Kata min dalam lafazh مِنْكُمْ tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka — seluruhnya — adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
شِفَاءٌ:Obat (penawar). Obat yang dimaksud dalam ayat ini meliputi obat atas segala penyakit, baik ruhani maupun jasmani dengan spesifikasi tertentu, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam tafsirnya

Empat Syafaat Al-Quran

Allah ta’ala telah menjaga Kitab Suci Al-Quran lewat dua cara: tulisan mushaf dan dada para penghafal Al-Quran. Namun penjagaan yang paling kokoh adalah lewat dada-dada para penghafal dan pengkajinya, karena mushaf-mushaf Al-Quran bisa saja punah dari masa kemasa atau dari suatu negeri tertentu dengan faktor peperangan atau faktor lainnya sebagaimana yang terjadi pada beberapa negeri islam dizaman penjajahan Uni Sovyet saat mushaf-mushaf dibakar, namun sebagian anak-anak umat islam masih tetap bisa menghafal Al-Quran lewat kekuatan daya ingat para penghafal yang menyimpan ayat-ayat Al-Quran dalam dada mereka.
Ketahuilah bahwa sekedar Allah menitipkan penjagaan Al-Quran ini pada seorang muslim untuk selalu ia hafal, kaji dan amalkan, maka Dia telah mengistimewakan dirinya dengan satu keistimewaan yang tidak bisa ditandingi oleh keutamaan apapun, sebagaimana dalam firman-Nya:

{ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا} [فاطر: 32]

“…Lalu Kami mewariskan Kitab ini (Al-Quran) terhadap orang-orang yang terpilih dari hamba-hamba Kami…” (QS Fathir: 32 ).
Walaupun hamba-hamba terpilih yang ada dalam ayat ini adalah kaum muslimin secara umum, namun para penghafal dan para pengkaji Al-Quran lah yang paling utama masuk dalam golongan hamba-hamba terpilih tersebut. Dalam hadis, Rasulullah shallallahu’alaihi waallam bersabda:

“إن لله أهلين من الناس. قالوا: يا رسول الله، من هم؟ قال: “هم أهل القرآن، أهل الله وخاصَّته”

“Sesungguhnya Allah memilki kerabat dari kalangan manusia”, para sahabat bertanya: “Siapakah mereka?”, beliau menjawab: “Ahli Al-Quran, merekalah kerabat Allah dan orang-orang istimewa disisi-Nya” (hasan, HR Ibnu Majah: 215, dan Ahmad: 1127).
Oleh karena itu, bukan suatu hal aneh bila Allah ta’ala menetapkan mereka sebagai manusia-manusia terbaik, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:
«خيركم من تعلم القرآن وعلمه»
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya”. (HR Bukhari: 5027).
Juga dalam sabdanya:

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواما، ويضع به آخرين

“Sesungguhnya dengan Kitab inilah (Al-Quran), Allah mengangkat derajat suatu kaum dan merendahkan derajat selain mereka”. (HR Muslim: 817).
Diantara sekian banyak keutamaan Al-Quran adalah adanya syafaat dari Al-Quran itu sendiri di akhirat kelak terhadap orang-orang yang menghafalnya, mengkajinya dan mengamalkan kandungannya, sebagaimana dalam hadis:

الصيام والقرآن يشفعان للعبد يوم القيامة

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat pada seorang hamba dihari kiamat kelak”. (HR Ahmad:6626, dan al-Hakim: 1/554, hasan li ghairihi).

Diantara sekian jenis syafaat Al-Quran tersebut adalah :
1.Al-Quran sebagai pemberi syafaat untuk masuk surga. Dalam hadis shahih Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

اقرءوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه، اقرءوا الزهراوين البقرة، وسورة آل عمران، فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان، أو كأنهما غيايتان، أو كأنهما فرقان من طير صواف، تحاجان عن أصحابهما

“Bacalah Al-Qur’an karena Al-Quran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya (dengan tadabbur dan mengamalkannya). Bacalah al-Zahrawain (dua cahaya) yaitu surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua cahaya sinar matahari atau seperti dua ekor burung yang membentangkan sayapnya, keduanya akan menjadi pembela bagi yang rajin membaca dua surat tersebut.” (HR. Muslim: 1910).
2.Al-Quran sebagai pengangkat derajat dalam surga. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

يقالُ لصاحبِ القرآن: اقرَأ وارتَقِ، ورتِّل كما كُنْتَ ترتِّل في الدُنيا، فإن منزِلَكَ عندَ آخرِ آية تقرؤها

“Dikatakan pada orang yang menjadi penjaga Al-Qur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu (tingginya derajatmu disurga) adalah tergantung pada akhir ayat yang engkau baca”. (shahih, HR Abu Daud: 1464 dan Tirmidzi: 3141).

Para ulama rahimahumullah menyatakan bahwa setiap seseorang membaca satu ayat, maka ia akan dinaikkan satu tingkatan surga hingga ia berhenti pada ayat terakhir hafalannya. Aisyah radhiyallahu’anha berkata: “Sesungguhnya jumlah tingkatan surga itu sebanyak jumlah ayat Al-Quran, dan tidak ada satupun penghuni surga yang lebih utama (tinggi tingkatannya) daripada pembaca Al-Quran”. (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: 29952, hasan).

3.Al-Quran menghindarkan penjaganya dari adanya hisab / penghitungan amalan yang buruk. Dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (29955, dengan sanad shahih), Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata: “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengikuti petunjuknya, maka Allah akan memberinya hidayah didunia, dan melindunginya dari buruknya hisab amalan dihari kiamat kelak, karena Allah telah berfirman: “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat (didunia) dan sengsara (diakhirat)”, (QS Thaha: 123)”.
4.Kedua orangtua penjaga Al-Quran mendapatkan syafaat kemuliaan diakhirat kelak. Dalam hadis disebutkan:
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada dirumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai (ganjaran pahala) orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Daud: 1453, hasan li ghairihi). 

 informasi diatas dikutip dari link - link berikut ini:

https://darunnajah.com/al-quran-jadikan-hidup-manusia-baik/
https://www.kompasiana.com/johanwanasir/5598ae56939373bb0b97b61b/al-quran-sebagai-obat-dari-segala-penyakit-hati-dan-jasmani?page=all
https://wahdah.or.id/empat-syafaat-al-quran/




Komentar